Kamis, 22 April 2010

Can money buy happiness?

It’s an adage question and it doesn’t have a direct answer. I can tell you this – money CAN’T buy happiness but money does influence someone’s happiness, a lot too.

I know a lot of people who are not rich and they’re still happy. At the same time, I also know a lot of friends who are rich and are happy too.

And here’s the ultimate kicker – I definitely have more friends who are rich and happy than not rich and happy.

You don’t *really* need money to be happy but with money in your hand to spend wisely, you can surely attain happiness quicker and perhaps, easier too.

You see, the REAL secret to happiness is by making others happy and feel fulfilled in return. Why do you think there are people who do charity by donating their money? Self-fulfillment.

If you have a wonderful wife who is loving and caring, wouldn’t it be a happier relationship if you can shower her with more gifts that money can buy?

Or if you have a beautiful kid, wouldn’t it be great if you can take your child to places he/she likes to visit?

If you read this and you feel like I’m a jerk to say money brings happiness or you’re about to disagree, stop reading because I’m not here to point out who’s right or wrong. But I think I can say this - if someone feels uncomfortable with what he reads here, then he’s just avoiding reality and reality always bites. Who likes to be ‘bite’? I rest my case.

What most people are unaware is at the subconscious level, they are letting this believe to sip into their mind and it became the excuse for them not to be wealthy.

To be wealthy, there’s a lot of work. And I’m not saying this because it’s my believe system or something – no. Go ahead and ask any millionaires how they became millionaires and I’m pretty confident that they’ll tell you that they’ve gone through certain levels of challenges.

Imagine this - if you embed the thought that money is not important for your happiness, do you think you’ll still work hard to be rich? Not anymore.

And these are the people who would say these sentences to you…

“Why work so hard?”

“Money is the root of all evil.”

“You’ll attract problems with your money.”

“You won’t have true friends if you’re rich.”

I’ve interviewed many millionaires and some of the most successful people in the world for my Success Trace Membership – Mark Victor Hansen, Bill Bartmann, Jerry Clark, Robert Allen, Christopher Guerriero, Ted Nicholas and many more… and guess what? They seem to have a lot of true friends and have strong feeling of happiness within them.

So after this explanation about money and it’s relation to happiness, I’ll tell you this - money will help you gain happiness when you’re attracting and using it correctly.

Ask any rich people - are they happier today or when they’re broke? Some will say when they don’t have money and this will be the small group of people who attract and use money wrongly, that’s all.

As a matter of fact, the topic of money is such a sensitive topic, that there are people who avoid discussing about it - embarrass to be misunderstood of being ‘chasing money’ and rejected from the society. If you’re not excited about getting rich, how would you attract it in the first place?

At the same time, I was asked an interesting question from an attendee when I was doing a workshop, MSIInAFlash.com, with Robert Allen, someone who I highly admire and respect, a real guru about creating wealth…

“You’re already so rich and successful. If I were you, I would have taught people for free.”

I honestly think he’s not rich yet and don’t really understand the mechanism or money and wealth yet, not in any negative intention.

I wanted to ask him this question in return…

“Why do you think doctors charge fee for their consultation? Or why do think lecturers, fitness trainers, fashion designers and professors should be paid then?”

The doctors, lecturers, fashion designers, fitness trainers and professors should be paid because they’ve risk their own time and money to be able to help other people. They’re ALREADY doing a favor to charge you and me for imparting their knowledge, experience and wisdom.

Imagine if they have the same thought like the worksho attendee, that they should be taught for free as well - that they should not spend tens of thousands or years to learn their trade. Imagine how this world would actually perform today. Weird, right? :-)

If you want to be rich, focus on being rich. Stop questioning what you don’t like because it’ll not change anything if it’s not within your control.

The way how you view the World will ultimately be your world.

So do you want happiness or money?

My answer: both because you’re living in a world of abundance where you can ‘and’, not ‘or’.

If you like what you’ve read for “Can money buy happiness?”, I look forward to hear from you. Just leave your feedback or message in the Comments below and I’ll personally read it.

UANG TAK BISA MEMBELI SEGALANYA

Kita sering membicarakan tentang uang, bagaimana mendapatkan banyak uang, bagaimana mengatur pengeluaran, berapa yang ditabung, serta diinvestasikan di mana. Kita sibuk merencanakan, memikirkan, dan mengkuwatirkan uang yang kita miliki, sehingga seolah-olah uang adalah hal yang paling penting di dunia.
Uang memang penting dalam kehidupan, tanpa alat tukar ini kita tak akan bisa memenuhi kebutuhan hidup. Uang membuat kita bisa melakukan banyak hal dibandingkan jika kita tak memilikinya. Tetapi sepenting-pentingnya uang, sebanyak apa pun pundi-pundi uang anda, ada hal-hal yang tak bisa dibeli olehnya, yaitu sebagai berikut :
1. Kehilangan waktu
Uang tak akan mengembalikan waktu yang telah berlalu. Setelah hari berganti, waktu 24 jam tersebut akan hilang dan tak akan pernah kembali. Karena itu gunakan setiap kesempatan yang ada untuk menyatakan perhatian dan kasih sayang Anda pada orang tercinta, sebelum waktu itu berlalu.
2. Kebahagiaan
Memang kedengarannya klise, uang tak bisa membeli kebahagiaan. Tapi inilah kenyataannya. Uang memang bisa membuat Anda merasa senang karena bisa membiayai liburan, membeli elektronik terkini, atau mobil paling cepat. Tapi setumpuk uang tak kan pernah bisa menghadirkan kebahagiaan yang nyata yang berasal dari dalam hati kita. Kebahagiaan jenis ini hanya datang dari hubungan yang membahagiakan serta dukungan dan cinta dari keluarga.
3. Kebahagiaan Anak
Untuk memberikan sandang dan pangan yang layak kepada buah hati memang dibutuhkan uang. Tapi uang tak bisa memberikan rasa aman, tanggung jawab, sikap yang baik, serta kepandaian, pada anak-anak. Hal itu merupakan buah dari waktu dan perhatian yang Anda curahkan untuk mereka dan hal-hal baik yang Anda ajarkan. Uang memang membantu kita memenuhi beberapa aspek pengasuhan, tapi waktu telah membuktikan bahwa kebutuhan dasar tiap anak adalah berapa banyak waktu yang diberikan orangtuanya, bukan uangnya.
4. Cinta
Ini satu hal klise lainnya, cinta tak bisa dibeli dengan uang, tapi akuilah hal itu benar. Dengan uang kita bisa membuat orang tertarik, tapi cinta berasal dari rasa saling menghargai, perhatian, berbagi pengalaman, dan kesempatan untuk berkembang bersama. Itu sebabnya banyak pasangan yang menikah karena uang, tak bertahan lama.
5. Penerimaan
Untuk diterima oleh lingkungan pergaulan, Anda tak butuh uang. Bila Anda ingin diterima, fokuskan energi anda untuk membuat diri anda berharga bagi lingkungan sekitar dengan menjadi teman dalam suka dan duka.
6. Kesehatan
Kita butuh uang untuk mengongkosi biaya perawatan dan membeli obat, tapi uang tak bisa menggantikan kesehatan yang hilang. Itu sebabnya pepatah lebih baik mencegah daripada mengobati sebaiknya kita terapkan. Mulailah berolahraga, berhenti merokok, dan banyak hal lain yang pasti sudah anda tahu.
7. Kesuksesan
Beberapa orang memang ada yang mencapai kesuksesan dengan menyuap, tapi ini adalah pengecualian. Kesuksesan hanya berasal dari kerja keras, kemauan, dan sedikit kemujuran. Ada aspek kecil dari usaha menuju sukses yang bisa didapatkan dengan uang, misalnya mengikuti pelatihan atau membeli peralatan, tapi sukses lebih banyak berasal dari usaha yang Anda lakukan sendiri.
8. Bakat
Kita dilahirkan dengan bakat tertentu. Dengan uang, yang bisa kita lakukan adalah mengasah bakat tersebut, misalnya belajar musik. Namun para ahli mengatakan, untuk menjadi ahli di bidangnya, kita membutuhkan bakat.
9. Sikap yang baik
Banyak orang yang kaya raya tapi sikapnya kasar dan ucapannya sinis. Tak sedikit orang sederhana yang tutur katanya sopan dan menunjukkan rasa hormat pada orang lain. Jadi, jumlah uang yang dimiliki bukan penentu sikap seseorang.
10. Kedamaian
Bila uang bisa membeli kedamaian, barangkali kita tak lagi mendengar tentang perang. Justru yang sering terjadi sebaliknya, uang lah yang menjadi sumber pertikaian dan permusuhan.
( kiriman dari seorang teman )

“Why Money Doesn’t Buy Happiness”

Apakah uang dapat membeli kebahagiaan ? intisarinya bahwa kita harus sadar bahwa uang bukanlah segalanya untuk menggapai kebahagiaan. Artikel ini terjemahan dari artikel yang dipublish di Newsweek dengan judul aslinya adalah “Why Money Doesn’t Buy Happiness”. diangkatnya tema ini agar kita lebih cerdas dan jernih melihat kekayaan itu tidak hanya dipandang dari kecerdasan akal saja namun juga kecerdasan batin agar kehidupan kita lebih balance. Para ahli ekonomi dan psikolog dan juga kita semua, telah lama bertanya2 karena ada asumsi kenapa dengan uang lebih banyak akan membuat kita lebih senang. Berikut ini adalah argumentasi yang mungkin dapat menjelaskan kepada kita semua kenapa semua itu bisa terjadi. Kita selama ini telah salah dalam mengambil kesimpulan dalam menjawab sebuah pertanyaan abadi yaitu “apakah uang dapat untuk membeli kebahagiaan ?”

Ketika para ekonom berusaha menjawab pertanyaan tersebut, mereka memulainya dengan mengadakan sebuah observasi bahwa ketika dalam sebuah bursa/pasar jual-beli, orang2 yang datang kesana ada yang berniat sebagai penjual dan ada sisanya sebagai pembeli. Dari sisi penjual akan berusaha menjual atau mendapatkan uang sebanyak2nya sedangkan dari sisi pembeli adalah berusaha membayar barang yang dibelinya dengan uang se-dikit2nya. Dari kejadian tersebut antara posisi penjual dan pembeli, para ekonom melihat bahwa penjual akan terlihat/berusaha senang bilamana mendapatkan uang sebanyak2nya (maximize) dan bagi pembeli, ia akan merasa senang bilamana menyisakan uang lebih banyak atau mengeluarkan uang se-dikit2nya (minimize). Oleh karenanya dapat ditarik benang merah bahwa dengan memiliki uang lebih banyak akan lebih baik daripada memiliki uang sedikit karena akan mendatangkan kesenangan (bahagia). Akhirnya para ekonom membuat premis bahwa dengan uang lebih banyak seharusnya membuat orang lebih senang.

Namun anehnya banyak orang kaya yang merasa tidak bahagia, misal CEO organisasi, dan orang2 kaya, mereka merasa tidak bahagia bahkan kemudian melakukan perbuatan tercela dengan menyakiti diri sendiri atau bunuh diri, karena rasa sedih yang tidak tertanggulangi. Dari peristiwa ini membuktikan bahwa asumsi sebelumnya dengan uang lebih banyak akan lebih membahagiakan adalah sebuah kebohongan. “Para ahli psikologi sudah mempelajari fenomena ini selama puluhan tahun untuk menyingkap tabir hubungan antara kekayaan dan kebahagiaan”, ujar psikolog dari Universitas Harvard Daniel Gilbert dalam buku best sellernya “Stumbling on Happiness”. Akhirnya para psikolog mengambil kesimpulan bahwa kekayaan akan meningkatkan rasa bahagia bagi seseorang bilamana dengan kekayaan itu mengangkat jenjang/stata sosialnya dari jenjang masyarakat miskin menjadi strata masyarakat kelas menengah, sedangkan untuk strata berikutnya pengaruh kekayaan terhadap kebahagiaan seseorang adalah tidak banyak.

Dalam sebuah gambaran intuisi, bukan merujuk kepada sebuah teori ekonomi, dimana dalam standar ekonomi bahwa bilamana seseorang diharuskan membuat suatu keputusan dalam membeli komoditas pokok bila dia diberikan tambahan kemampuan ekonomi maka dia akan memperbanyak pilihan, misalkan, bila dikantung anda ada uang Rp 500 ribu maka anda bisa saja pergi ke warteg, warung padang atau bahkan ke sebuah restoran untuk makan steak dengan pilihan daging sapi impor ataupun lokal, namun bila dikantung anda hanya ada uang Rp 10 ribu maka anda harus rela makan malam anda di warteg saja. Jadi kesimpulannya adalah adanya tambahan kemampuan ekonomi (uang) akan mendorong anda memenuhi tambahan kebutuhan/keinginan, atau bilamana tambahan keinginan itu dapat terpenuhi maka anda seharusnya lebih senang.

Namun sulitnya, menentukan sebuah pilihan itu tidak semudah diduga orang. Dari berbagai penelitian memberikan penggambaran. Sebagai contoh disini adalah bila kita ingin membeli pasta gigi disebuah pusat perbelanjaan. Disana ada berbagai macam pasta gigi tersedia dan untuk memilih produk pasta gigi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan kita adalah sulit, dan ditambah lagi kita mempunyai kebiasaan jelek bahwa kita tidak bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Sebenarnya kesulitan dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan ini adalah sebuah dampak dari suksesnya usaha industri periklanan (media-saturated culture) sehingga untuk memenuhi sebuah pilihan kebutuhan/keinginan ada banyak pilihan tersedia. Serta adanya perbedaan kepuasan pemenuhan antara kebutuhan dan keinginan, bilamana terpenuhi kebutuhan kita maka hanya akan memberikan sedikit rasa puas secara emosional sedangkan pemenuhan keinginan akan memberikan rasa kepuasan yang lebih tinggi.

Ada sebuah garis tidak linear yang menghubungkan tingkat kepuasan seseorang dilihat dari kenaikan status ekonominya, kenaikan kepuasan bilamana seseorang naik dari orang miskin menjadi jutawan maka kualitas rasa senang ini akan lebih besar dibandingkan kualitas kepuasan bila dia menjadi lebih kaya lagi misal menjadi milyarder. Dari survey global yang melakukan polling kualitas kepuasan seseorang bila dalam rentang skala 1 – 7, dimana skala 1 adalah “segalanya tidak menyenangkan dalam kehidupan saya” dan skala 7 yang berarti “segalanya menyenangkan dalam kehidupan saya”. Di hasil polling, para multijutawan di Amerika Serikat memberikan angka penilain hanya 5.8 sedangkan para tunawisma di Calcutta – India memberikan angka 2.9. Nah sebelum anda mengambil kesimpulan apakah segalanya dapat dibeli uang. Coba renungkan kembali siapa lagi yang akan memberikan skor 5.8 atau lebih, apakah suku Inuit di Utara Greenland yang tidak dalam kehidupan mewah, atau Suku Masai di Kenya yang tidak mengenal listrik dan sulit air, sedangkan penghuni rumah kumuh di Calcutta memberikan penilaian angka 4.6 (bandingkan skor tunawisma Calcutta 2.9). Jadi uang masih berpengaruh dari jenjang miskin (homeless) menjadi lebih mampu (slum dwellers), adanya kenaikan rasa puas dari skor 2.9 ke skor 4.6 (selisih 1.7 points), lebih kecil selisihnya bila status ekonominya naik lagi dicontohkan disini antara multijutawan AS – skor 5.8 dan slum dwellers– Calcutta skor 4.6 (hanya 1.2 points). Hal membuktikan ucapan Gilbert bahwa uang berpengaruh terhadap rasa senang/bahagia seseorang bilamana uang tersebut menaikan status ekonomi dia dari miskin menjadi kelas menengah (Ini hanyalah pendekatan dari sudut pandang ilmiah saja, apakah anda setuju atau tidak monggo saja)

Namun dari studi penelitian yang dilakukan dibelahan dunia lain menunjukkan kesamaan dengan hasil penelitian diatas. “Negara Jepang meskipun kenaikan angka GDP nya melejit dan negara-negara Eropa Barat yang booming setelah PD II juga menunjukkan rasa kebahagiaan warganya yang mendatar”, tutur social psychologist Ruut Veenhoven dari Erasmus University – Rotterdam. Penurunan tingkat kepuasan ini juga akibat pengaruh berkembangnya laju ekonomi, dimisalkan kepemilikan mesin cuci, dahulu mesin cuci adalah barang mewah (luxury) sedangkan kini adalah sebuah bentuk dari barang fungsional sesuai kebutuhan (necessity). Tingkat kepuasan orang kaya baru yang membeli mesin cuci tidak akan sama kualitas kebahagiannya antara sekarang dan dahulu. Warga AS yang berpenghasilan $50,000/tahun akan lebih senang dibandingkan dengan warga yang berpenghasilan $10,000/tahun. Namun warga yang berpenghasilan $5 juta/tahun tidak lebih bahagia dengan yang berpenghasilan $100,000/tahun. “Dalam konteks ekonomi, kesuksesan pertumbuhan ekonomi diukur dengan tingkat kemakmuran, dan itu salah satu sisi negatif paham materialisme”, simpul Diener dan Seligman

Jika uang tidak dapat membeli kebahagiaan, maka ingatlah kembali petuah lama yang mengajarkan bahwa kesehatan dan pertemanan adalah hal yang lebih membahagiakan. Atau ingat kata Diener dan Seligman bahwa sekali kebutuhan dasar kita terpenuhi maka kemakmuran hidup itu tidak terlalu berbeda dalam upaya mencapai kebahagiaan, berbeda dengan pertemanan dan kesenangan ditempat kerja. Peneliti lainnya menjelaskan bahwa kepemilikan hak asasi pribadi sebagai warga negara dan hidup dalam lingkungan yang demokratis yang saling menghargai hak dan aturan hukum lebih memberikan makna hidup terhadap seseorang. Oleh karena itu menurut Veerhoven seyogyanya kurangi investasi ekonomi dan dan lebih ditekankan pada kebijakan yang mendorong terciptanya good governance, liberties, democracy, trust and public safety.

Jadi meskipun uang tidak dapat membeli kebahagiaan, namun perilaku orang muda AS masih stereotip bahwa dengan berpenghasilan lebih banyak akan membahagiakan mereka, namun beberapa tahun kemudian mereka akan bergeser menjadi orang yang tidak bahagia. Orang-orang yang merasa sebagai manusia yang utuh (well-being) akan lebih produktif dan mendorong menjadi manusia yang lebih inisiatif dan kreatif serta ujung2nya akan berpengaruh kepada penghasilan mereka menjadi lebih tinggi. Terakhir, Gilbert mengingatkan kembali bahwa “ekonomi akan berkembang dan tumbuh bila masyarakatnya melebur kedalam sebuah kepercayaan bahwa peningkatan kekayaan akan membuat mereka bahagia…”

Ada fragment dari buku “You Are A Leader” nya Arvan Pradiansyah yang saya rasa bagus sebagai penambah pengetahuan kita bahwa kemajuan dalam bidang materi ternyata tidak mendatangkan kebahagiaan bahkan menimbulkan masalah2 baru yang sulit terpecahkan. Gejala ini sebenarnya sudah ditangkap lama oleh salah seorang pemikir besar – Alexander Solzhenitsyn - bahwa kemajuan bidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi justru menimbulkan perasaan tidak aman secara spiritual kepada manusia. Kemajuan-kemajuan itu memang memperkaya namun sekaligus memperbudak kita. Apa yang kita capai semata-mata didasarkan pada kepentingan (interest). Semuanya adalah perjuangan untuk mendapatkan materi, namun suara hati kita mengatakan bahwa kita telah kehilangan sesuatu yang murni dan mencerahkan. Kita gagal melihat tujuan hidup kita. Dan menurut Alija Izetbegovic – negarawan dan filsuf Bosnia – mengatakan bahwa mahluk yang hanya mengejar kepentingan, efektivitas dan efisiensi adalah hewan. Karena itu manusia yang hanya mengutamakan ketiga hal tersebut pada hakekatnya telah menurunkan harkat dan derajatnya sebagai manusia.

Rabu, 21 April 2010

UMB 2010

Ujian Masuk Bersama untuk Perguruan Tinggi Negeri

Direncanakan akan diikuti oleh 12 PTN, yakni :

1. Universitas Syiah Kuala - Banda Aceh (www.usk.ac.id)
2. Universitas Malikussaleh - Lhokseumawe (www.unimal.ac.id)
3. Universitas Sumatera Utara - Medan (www.usu.ac.id)
4. Universitas Andalas - Padang (www.unand.ac.id)
5. Universitas Negeri Padang - Padang (www.unp.ac.id)
6. Universitas Jambi - Jambi (www.unja.ac.id)
7. Universitas Negeri Jakarta - Jakarta (www.unj.ac.id)
8. Universitas Indonesia - Jakarta (www.ui.ac.id)
9. Universitas Islam Negeri Jakarta - Jakarta (www.uinjkt.ac.id)
10. Universitas Negeri Semarang - Semarang (www.unnes.ac.id)
11. Universitas Palangkaraya - Palangkaraya (www.upr.ac.id)
12. Universitas Islam Negeri Makassar - Makassar (www.uin-alauddin.ac.id)



Jadwal UMB-PTN 2010 :
Pembayaran Di Bank BNI: 22 Februari - 19 Mei 2010
Pendaftaran Online: 12 April 2010 - 19 Mei 2010
Ujian Tulis (satu hari) : 22 Mei 2010
Pengumuman: 08 Juni 2010

Rabu, 07 April 2010

Jumat, 02 April 2010

Kuncii Sukses :::

Kesuksesan akan di dapatkan oleh orang orang yang mau bekerja keras,karena yang akan merubah keadaan kita adalah diri kita sendiri.adpun cara atau kiat kiat sukses d dalam hidup ini yaitu dengan cara:

1.Meyakinkan diri kita bawa saya harus jadi orang yang sukses.
2.Menjadikan pengalaman adalah pelajaran yan
g harus di cam kan agar sikap dan pemikiran kita lebih matang.
3.Selalu optimis dalam melakukan segala usaha.
4.Berdoa kepada tuhanYME karena tanpa doa segala usaha tanpa ridhonya tak kan menghasilkan apa apa.
5.Selalu positif tinking kepada rekan atau keluarga yang ada di sampimg kita.
6.Lakukan semangat dan kualitas kerja yang konstan agar kerjaan yang kita kerjakan dapat di andalkan.
7.Bekeraja keraslah selagi muda dan nikmatilah hasilnya di hari tua.
Apapun yang kita inginka dapat tercapai apabila kita mau mencapainya dengan semangat dan kerja keras yang berkualitas.

a.d.e.v.i


pernah berfikir sejenak makna pacaran ?
nah , disini akk baru tw iit .
tag pernah akk terpikir bahwa akk menangis karna cinta .

spintas bodoh bget berpikir cemiitu . tpii begitulah yang namanya perasaan . tag bisa d bohongii.....
smwa iit nyataaa:)


Kata Bijak : Mutiara Cinta itu adalah pengertian

Ada sebuah kata bijak yang bintang buat sendiri : Mutiara Cinta itu hanyalah semata-mata pengertian. Mungkin terdengar simple dan sederhana, tapi dibalik semua itu tersimpan makna yang sangat dalam. Sedalah samudra atlantik!Lalu apa donk hubungan cinta dan pengeritan. itu semua adalah kasih sayang.

Cinta bukanlah hanya kata-kata tapi adalah sebuah tindakan. Dan sebuah tindakan didasarkan atas asas logika pengertian. Bukanlah hal yang bijak jika kamu hanya membuat orang merasa kamu pengertian tapi sebaliknya tidak sama sekali. Jadi itulah inti yang terdalam :

Mutiara adalah Cinta, dan dasar semua itu adalah bukan kata bijak yang diberikan

melainkan adalah pengertian. Sebuah perasaan untuk memahami satu sama lain dengan penuh persaan.

Contohnya : Dengan pasangan bisa saja anda memborbardirnya dengan berbagai kata kata cinta. Tapi jika itu tidak didasarkan pada sebuah kata sederhana yaitu pengertian. Bintang rasa itu bukanlah tindakan yang bijak. Sama sekali. ( itt semu sepertii gambarr dibawahhh cantiik dan indahh:)


Pussycat dolls , hush hush



Oooohh Yeah Oh Oh Oh

I never needed you to be strong,
I never needed you for pointing out my wrongs,
I never needed pain,
I never needed strain,
My love for you was strong enough you should have known,
I never needed you for judgements,
I never needed you to question what I spend,
I never asked for help,
I take care of myself,
I don't know why you think you've got a hold on me

And it's a little late for conversations,
There isn't anything for you to say,
And my eyes hurt, hands shiver,
So look at me, and listen to me..

(Because)
I don't want to stay another minute,
I don't want you to say a single word,
(Hush, hush, hush, hush)
There is no other way, I get the final say,
Because..
I don't want to do this any longer,
I don't want you, there's nothing left to say,
(Hush, hush, hush, hush)
I've already spoken, our love is broken,
Baby, hush, hush.

I never needed your corrections,
On everything, from how I act, to what I say,
I never needed words,
I never needed hurts,
I never needed you to be there every day,
I'm sorry for the way I let go,
Or everything I won't need when you came along,
But I am never beaten, broken, not defeated,
I know that next to you is not where I belong,

And it's a little late for explanations,
There isn't anything that you can do,
And my eyes hurt, hands shiver,
So you will listen when I say..

I don't want to stay another minute,
I don't want you to say a single word,
(Hush, hush, hush, hush)
There is no other way, I get the final say,
Because..
I don't want to do this any longer,
I don't want you, there's nothing left to say,
(Hush, hush, hush, hush)
I've already spoken, our love is broken,
Baby, hush, hush.

First I was afraid....I was petrified
Kept thinking I could never live
Without you by my side...
But I spent so many nights
Thinking how you did me wrong
But I grew strong...I learned how to carry on....


(Because)
I don't want to stay another minute,
I don't want you to say a single word,
(Hush, hush, hush, hush)
There is no other way, I get the final say,
Because..
I don't want to do this any longer,
I don't want you, there's nothing left to say,
(Hush, hush, hush, hush)
I've already spoken, our love is broken,
Baby, hush, hush.

Yeahhhh Ohhh Ohhh Ohhh
(Hush, hush, hush, hush)
I've already spoken, our love is broken,
Baby..